NTBInsider, Lombok Timur – Antusiasme masyarakat untuk mendaki Gunung Rinjani meningkat tajam menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat peningkatan signifikan jumlah reservasi pendakian pada pertengahan Agustus. Puncak pemesanan diperkirakan terjadi pada 16 Agustus 2026, atau sehari sebelum peringatan Hari Kemerdekaan.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardraristo, mengatakan momentum libur kemerdekaan hampir selalu menjadi periode yang ramai bagi aktivitas pendakian.
Menurutnya, tingginya minat tersebut membuat calon pendaki umumnya telah mengamankan tiket sejak jauh-jauh hari. Hal itu dilakukan karena pendakian Rinjani membutuhkan persiapan yang cukup matang.
“Antusiasme pendaki untuk periode Agustusan biasanya sudah terlihat jauh sebelumnya. Bahkan, kuota pada waktu tertentu bisa habis sekitar sebulan sebelum jadwal pendakian,” ujar Astekita, Jumat (7/8/2026).
Berdasarkan catatan TNGR, pada 11 Agustus terdapat 218 orang yang melakukan reservasi, terdiri atas 140 wisatawan domestik dan 78 wisatawan mancanegara. Jumlah tersebut kemudian mengalami penurunan dalam tiga hari berikutnya. Pada 12 Agustus tercatat 158 orang, disusul 112 orang pada 13 Agustus dan 115 orang pada 14 Agustus.
Memasuki 15 Agustus, jumlah reservasi kembali meningkat drastis. Sebanyak 392 orang tercatat melakukan pemesanan, dengan rincian 303 wisatawan domestik dan 89 wisatawan asing.
Lonjakan tertinggi terjadi pada 16 Agustus. Total reservasi mencapai 539 orang, terdiri dari 417 wisatawan domestik dan 122 wisatawan mancanegara.
Angka tersebut menjadi jumlah reservasi harian tertinggi dalam periode 11 hingga 19 Agustus.
“Mulai 15 Agustus pergerakan pendaki sudah terlihat meningkat. Banyak yang memilih tanggal tersebut sebagai awal perjalanan sehingga jumlah reservasinya ikut terdongkrak,” jelas Astekita.
Setelah mencapai puncak pada 16 Agustus, jumlah reservasi kembali menurun pada hari perayaan kemerdekaan. Pada 17 Agustus tercatat 290 pendaki, terdiri dari 239 wisatawan domestik dan 51 wisatawan mancanegara.
Jumlah tersebut kembali turun menjadi 120 orang pada 18 Agustus dan 81 orang pada 19 Agustus. Di tengah meningkatnya jumlah wisatawan, Balai TNGR memastikan pengawasan di kawasan konservasi tetap menjadi prioritas.
Petugas akan meningkatkan patroli di sejumlah titik untuk memastikan aktivitas pendakian berjalan sesuai ketentuan. Pengawasan juga diarahkan pada penerapan kebijakan zero waste yang selama ini diberlakukan di kawasan Rinjani.
Astekita menyebut, penerapan kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil. Salah satunya terlihat dari kecenderungan jumlah sampah yang dibawa turun oleh pendaki yang terus berkurang dari tahun ke tahun.
“Kesadaran pendaki untuk membawa kembali sampahnya terus membaik. Dari pemantauan kami, volume sampah yang turun dari jalur pendakian menunjukkan tren penurunan setiap tahunnya,” katanya.
Edukasi terkait kebersihan kawasan juga terus diberikan kepada pendaki, porter dan pemandu. Mereka diingatkan agar tidak meninggalkan sampah selama berada di kawasan Rinjani.
Pembersihan dilakukan secara rutin di sejumlah lokasi, termasuk jalur pendakian, Pelawangan hingga kawasan Danau Segara Anak.
“Tidak hanya melakukan pengawasan, kami juga rutin membersihkan sejumlah titik yang menjadi lokasi aktivitas pendakian, termasuk kawasan Pelawangan dan sekitar Segara Anak,” ungkapnya.
Selain aspek pengawasan dan kebersihan, Balai TNGR juga melakukan peningkatan fasilitas untuk menunjang aktivitas wisata di kawasan Rinjani. Sejumlah shelter dan bagian jalur pendakian mendapat perhatian untuk diperbaiki. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan pelayanan sekaligus kenyamanan pendaki.
Balai TNGR juga tengah mempersiapkan sejumlah pengembangan baru terkait sistem pemantauan maupun pelayanan pendakian. Namun, Astekita belum menjelaskan secara detail inovasi yang sedang disiapkan tersebut.
Dengan meningkatnya jumlah wisatawan, pihaknya mengingatkan pendaki agar tidak mengabaikan aturan yang berlaku selama berada di kawasan konservasi.
“Semakin banyak orang yang datang, semakin penting pula kepatuhan terhadap aturan. Kami berharap setiap pendaki ikut menjaga Rinjani agar tetap lestari,” ujarnya.
Astekita menegaskan, keindahan Rinjani merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, antusiasme menikmati alam harus diikuti dengan kepedulian untuk mempertahankan kelestariannya.
“Menjaga Rinjani tidak hanya menjadi tugas petugas. Kesadaran itu harus dimulai dari masing-masing orang yang datang dan beraktivitas di kawasan ini,” pungkasnya. (**)







