NTBInsider, Lombok Tengah – Ratusan warga Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah berduyun-duyun mengikuti Festival Mobok Balang di area persawahan, Sabtu (8/8/2026) malam. Festival yang digelar untuk keempat kalinya ini tidak hanya menjadi ajang melestarikan tradisi masyarakat Sasak, tetapi juga menjadi ruang berkumpulnya warga sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat melalui puluhan pelaku UMKM.
Mobok Balang sendiri merupakan tradisi masyarakat Sasak yang dilakukan secara bersama-sama di area persawahan dan ladang untuk menangkap belalang. Hasil tangkapan biasanya dimanfaatkan sebagai bahan makanan tambahan yang kaya protein. Tradisi ini juga menyimpan nilai sosial, budaya, ekonomi hingga lingkungan. Anak-anak, remaja hingga orang tua turun langsung ke sawah, saling membantu dan berbagi hasil tangkapan.
Suasana festival semakin meriah dengan hadirnya puluhan stan UMKM yang menjajakan berbagai makanan lokal khas masyarakat Lombok. Beragam kuliner seperti pencok, urap-urap, pelecing, jagung bakar, pisang goreng, bebetok, sate siput, sate ayam, kelepon, jaje tujak hingga sambal belalang tersedia di kawasan festival. Kehadiran Pasar Balang sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat desa.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal yang hadir dan membuka Festival Mobok Balang mengajak masyarakat Tanak Beak mempertahankan kelestarian lingkungan yang selama ini masih terjaga. Iqbal mengaku telah lama memiliki ketertarikan terhadap kawasan Tanak Beak. Menurutnya, keindahan alam dan karakter masyarakat menjadi kekuatan tersendiri yang dimiliki desa tersebut.
“Sejak beberapa tahun yang lalu, saya sudah jatuh cinta sama Tanak Beak ini. Keindahan alamnya, cuacanya enak, senyum masyarakatnya juga cerah, dan masyarakat sangat bahagia,” ujarnya saat membuka festival.
Iqbal kemudian menitipkan dua pesan penting kepada masyarakat Tanak Beak. Pesan pertama berkaitan dengan lingkungan. Menurutnya, kondisi lingkungan Tanak Beak yang masih terjaga tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Kelestarian kawasan tersebut juga berdampak bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai di wilayah bawah.
“Tanak Beak ini lingkungannya masih luar biasa baik, masih terjaga. Yang hidup dari lingkungan yang sehat di Tanak Beak ini bukan hanya warga Tanak Beak. Warga yang lain di bawah aliran sungai ini semua sangat tergantung kepada sehatnya lingkungan di Tanah Beak,” tegasnya.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak melakukan penebangan pohon sembarangan, merusak sungai maupun membuang sampah ke lingkungan.
“Jaga lingkungan ini. Jangan tebang pohon-pohon kalau tidak perlu, jangan rusak sungai. Manfaatkan sungai tapi jangan dirusak. Jangan membuang sampah sembarangan,” katanya.
Iqbal berharap kondisi lingkungan Tanak Beak yang masih asri dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Jangan kita mewariskan generasi yang lemah. Kita mau keindahan Tanak Beak yang kita temui dan lihat pada hari ini bisa kita wariskan kepada generasi yang akan datang dalam keadaan sama indahnya, sama baiknya, dan sama sehatnya lingkungannya,” tuturnya.
Selain lingkungan, Iqbal juga mengingatkan masyarakat mengenai jejak sejarah yang tersimpan di kawasan Tanak Beak. Menurutnya, sejumlah titik di kawasan tersebut masih menyimpan jejak dampak letusan dahsyat Gunung Samalas pada 1257. Bahkan, terdapat benda-benda yang diduga merupakan peninggalan masa lalu.
Ia meminta masyarakat yang menemukan benda atau artefak yang diduga memiliki nilai sejarah untuk tidak menjual maupun merusaknya.
“Kalau menemukan benda-benda dari masa lalu yang terkubur di sini, supaya diamankan. Kalau perlu dikompensasi, kita kasih kompensasi kepada masyarakat yang menemukan,” katanya.
Masyarakat juga diminta segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun Dinas Kebudayaan apabila menemukan benda yang diduga memiliki nilai sejarah.
“Jangan sungkan-sungkan kontak Pak Kadis Kebudayaan, baik di Lombok Tengah maupun di Mataram. Karena banyak benda-benda bersejarah yang terkubur di Tanah Beak ini,” imbuhnya.
Menurut Iqbal, peninggalan tersebut bukan hanya memiliki nilai material. Lebih dari itu, benda-benda tersebut menyimpan cerita dan pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat pada masa lalu. “Banyak cerita di balik benda-benda yang ditemukan itu. Ada banyak pelajaran di balik benda-benda yang ditemukan itu,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi NTB, lanjutnya, tengah memikirkan langkah konservasi terhadap berbagai peninggalan yang ditemukan di kawasan tersebut. Dari sejumlah artefak yang telah ditemukan, Iqbal menilai Tanak Beak memiliki sejarah panjang dan pernah menjadi kawasan yang maju pada masanya. “Kalau kita lihat sementara ini, dari artefak-artefak peninggalan, benda-benda yang ditinggalkan itu, sebenarnya kita lihat bahwa dulu Tanah Beak ini daerah yang sangat maju,” pungkasnya. (Admin02-Ni)







